Pembentukan Badai Tropis Melonjak

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejak Mei hingga akhir Oktober di utara wilayah perairan Indonesia telah terbentuk 23 siklon atau badai tropis. Jumlah badai di kawasan itu hingga akhir November diprakirakan akan sama atau di atas normal.

 

Koordinator Tropical Cyclone Warning Center Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (TCWC-BMKG) Fachri Rajab, di Jakarta, Kamis (29/10), mengatakan, dalam kondisi normal, jumlah rata-rata badai—yang terbentuk April-November—adalah 25,7 siklon. Patokan ini berdasarkan data tahun 1968 hingga 1990.

”Masih ada waktu sebulan lagi bagi pembentukan siklon di utara Indonesia. Jumlah siklon yang terbentuk saat ini hanya berselisih 2,7 dibandingkan dengan rata-ratanya,” ujar Fachri.

Sejak badai tropis Kyjira yang muncul 8 Mei lalu, menyusul 23 badai lain. Salah satunya adalah badai Lupit yang meluruh Selasa (27/10) sekitar pukul 19.00 WIB, siang harinya pukul 13.00 telah tumbuh badai Mirinae.

Kamis (29/10) siang Mirinae bergerak ke arah timur Filipina, pada posisi 15,8 Lintang Utara dan 13,6 Bujur Timur. Jaraknya 1.700 kilometer timur laut Manado.

Mirinae yang bergerak ke Samudra Pasifik tak memberi dampak berarti bagi wilayah Indonesia. Saat ini Mirinae masih dalam kondisi stabil dengan kecepatan 139 kilometer per jam.

Dari badai tropis yang terbentuk sejak Mei, tiga di antaranya menimbulkan bencana, yaitu Ketsana dan Parma di Filipina serta Morakot menerjang Taiwan.

Bagi Indonesia, gangguan cuaca itu bisa berimbas pada wilayah Indonesia yang berada dekat dengan jalur badai karena pusarannya dapat menarik massa udara di sekitar ekuator.

”Munculnya Parma, misalnya, menimbulkan belokan angin di utara Sulawesi dan Maluku,” tuturnya.

Oleh karena itu, masa hidup badai yang berlangsung tiga hari hingga dua minggu terus dipantau TCWC-BMKG, untuk melihat potensi dampaknya bagi Indonesia, berupa angin kencang, hujan lebat, dan gelombang laut yang tinggi.

Badai tropis terbentuk karena suhu muka laut di atas 27 derajat celsius dan kecepatan angin lebih dari 67 kilometer per jam, ujar Hary Tirto, Kepala Subbidang Informasi Meteorologi BMKG.

Saat ini Indonesia memasuki masa peralihan ke musim hujan. Hal ini ditandai hujan lebat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat di sebagian besar Sumatera; Kalimantan bagian barat, selatan, dan timur; dan beberapa daerah di Kalimatan Tengah bagian utara. (YUN)

Sumber : Kompas Cetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: