Andai Al-Qur’an Bisa Berbicara

Hujan turun dengan lebatnya pada malam itu, Gemuruh petir yang menyambar di sertai angin yang membuat kepanikan. Hari itu sepi, gelap dan menakutkan. Semua jendela kamar tertutup rapat, begitu pula pintu – pintu rumah warga yang tak satu pintu pun terbuka.

Tampak seorang gadis berkerudung putih keluar rumah menggunakan payung kesukaannya. Tampak tenang gerak – gerik gadis itu. Gadis itu bernama Tysa. Ia adalah seorang gadis yang anggun dan pintar. Sayang, karena keterbatasan ekonomi, Tysa tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, kalau pun begitu Tysa tidak pernah rendah. Dia tetap bersyukur dengan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

Tysa adalah anak tunggal ia tinggal bersama Ibunya. Mereka jalani hidup berdua. Ayahnya telah pergi entah kemana. Tysa pergi membawa tas biru. Menyusuri jalan yang gelap dan bejek. Tysa berhenti di suatu rumah yang kecil tapi rapih dan bersih. Di depan rumah di hias dengan bunga – bunga beraneka warna, pohon yang masih muda tampak kokoh menambah keindahan di depan rumah itu. Rumah itu adalah rumah Tysa, rumah yang ia tempati sejak lahir.

“ Assalamualaikum……..ibu…..ini Tysa….”seru Tysa dengan lembut.

“ ia nak masuk, pintu tidak ibu kunci “seru ibu Iysa dari dalam.

Tysa masuk ke dalam rumah, menyimpan payung dan sandal ke dapur lalu pergi ke kamar ibunya.

“ Bu, Tysa bingung….apa yang sekarang harus Tysa lakukan…? “jelas Tysa membungkukkan kepalanya.

“ loh… ko Tysa bingung, kan ibu bilang tidak akan memaksa, lagian menjadi buruh cuci pun kamu dapat hidup sampai sebesar ini.”

“ Tapi Bu, Tysa ingin membantu Ibu…Tysa ingin membahagiakan Ibu”

“ Tysa anak Ibu, kamu nurut sama Ibu saja, Ibu sudah bahagia sayang. Sekarang pergilah dan tidur. Tapi ingat sebelum tidur dacalah Al-Qur’an dan minta petunjuklah kepada Alla SWT. “

“ baik bu………………..”

Setelah mendengar kata – kata ibunya Tysa pun pergi ke kamarnya. Ia menyelimutkan badan nya, membuka Al-Qur’an dan membacanya dengan ke ikhlasan hati. Setelah selesai Tysa pun mengangkat ke dua tangan nya dan memanjat kan do’a. setelah itu Tysa pun tertidur.

“ kukurruyyuuuuuuuukkkkk…………..”terdengar ayam berkokok. Di tambah dengan suara adzan subuh yang menggema. Tysa pun terbangun, merapikan tempat tidurnya pergi ke kamar mandi dan ber wudhu.

Sholat subuh Tysa kerjakan. Setelah solat ia berfikir sejenak menatap semua benda yang berada di kamar nya. Tysa pun beranjak, ia menganbil tas dan mengemas pakaian.

“ Assalamualaikum………………..” terdengar ucapan salam dari luar.

“ Waalaikumsalam………………….” Jawab Tysa dari dalam. Seraya Tysa keluar kamar membukakan pintu.

“ ia…siapa…?” Tanya Tysa

“ saya Neng Tysa…..”

“ oh ibu tunggu sebentar”

Tysa membukakan pintu dan mempersilahkan masuk. Tamu yang datang pada pagi itu adalah Bu Jamal. Beliau akan menanyakan kembali tentang pekerjaan yang akan di ikuti oleh Tysa. Tysa pergi ke kamar ibunya. Lalu ibu Tysa berbincang sejenak. Tysa dan ibunya menyetujui prinsip kerja yang akan Tysa jalani. Tysa pun berkemas dan pergi bersama Bu Jamal.

“ Tysa anak ibu, ingat lah di Jakarta sana banyak orang jahat. Kuatkan iman serta dirimu. Ingat lah solat, bacalah Al-Qur’an dan jangan berputus asa menghadapi cobaan. Ingatla Allah selalu melihat kelakuan umatnya.”

“ia bu, Tysa akan ikuti nasehat ibu. Ibu juga jaga diri ibu. Do’akan Tysa ya bu.”

“ ia nak…berangkatlah….”

“ ia bu…Assalamualaikum”

“ Waalaikumsalam”

Tysa berangkat, ibunya melihat kepergiaan anak tunggalnya. Sedih bila dirasakan ibunya tapi apa daya semua demi kebaikannya. Setelah Tysa hilang dari pandangannya, ibunya pergi ke kamar mandi mengurusi cucian tetangga yang belum ia kerjakan.

Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan. Satu hari serasa satu menit, begitupun satu bulan, Tysa rasakan satu minggu. Begitu yang di rasakan Tysa. Saking semangat nya Tysa bekerja. Dengan gaji yang lumayan besar dan bekerja hanya menghadap computer, menambah semangat Tysa untuk berkerja. Datang pagi pulang malam pun tidak ia sesali tapi ia rasakan dengan penuh keindahan. Sampai pada suatu malam.

Setelah bekerja seharian, Tysa pulang ke rumah yang baru saja ia beli. Tidak terlalu besar tapi cukup nyaman. Hari itu ia pulang lebih awal dari biasanya. Malam itu adzan isya belum berkumandang. Belum melaksanakan sholat isya, Tysa sudah tertidur pulas. Tysa bermimpi yang cukup aneh dan menakutkan.

Dalam mimpinya Tysa di datangi beribu-ribu Al-Qur’an yang menangis. Salah satu Al-Qur’an itu berbicara, menghentikan tangisannya.

Al-Qur’an itu mengatakan kata-kata yang sangat menyedihkan………

 

Waktu kau masih bersama ku menemani ku di atas kesepian mu…..kau bagaikan sahabat

sejati ku, yang tak pernah jauh dari ku,

Dengan wudhu kau menyentuhku…..dalam keadaan suci kau selalau bersama ku

Kau baca dengan iklas serta anugrah kesenangan…..setiap waktu dan tak pernah terlupa,

Kini kau jauh dari ku…………seakan kau tak berminat lagi untuk menyentuh ku, apalagi membaca ku.

Apa aku bacaan usang yang tinggal sejarah???..

Sekarang kau simpan aku dengan rapi sendiri….kau biarkan aku tertutup diantara gelap nya kegelapan,

Aku menjadi kusam dan tak berarti,

Tubuhku berlapis debu dan di makan kutu,

Sekarang ku mohon kepadamu……

Peganglah aku lagi……

Bacalah aku setiap hari, jadikan aku sahabat sejati mu kembali

Karena aku akan menjadi

Penerang dalam kubur mu nanti,

 

 

Sejenek Tysa merenungi semua yang telah di ucapkan oleh sebuah Al-Qur’an di iringi dengan tangisan Al-Qur’an yang lain. Tysa menangis dengan keras, semua air matanya berlinang membasahi ke dua tangannya.

Tiba – tiba Tysa terperanjat bangun dari tidurnya.

“Huuh…………..ternyata hanya mimpi, tapi apa pertanda mimpi tadi..? apa semua itu adalah khayalan saja atau memang pertanda?”

Tysa menyentuh pipinya. Ternyata pipinya basah précis bekas linangan air mata, Tysa kebingungan mulai berfikir dan berpikir, tapi jawabannya tak kunjung ia temukan. Tysa melupakan semua kejadian yang ia alami saat tidur. Lalu mengambil jam menaruhnya dan tidur kembali.

“kukurruyyyuuuuuuukkkkkkkkkkkkkkkkkk…………….”

Terdengar suara ayam berkokok, di tambah dengan suara adzan subuh yang menggema pada pagi itu. Ibu Tysa terbangun dan segera pergi kekamar mandi menggambil air wudhu. Seperti biasanya setiap pagi Ibu Tysa selalu melihat kamar Tysa. Tapi, pada pagi itu Ibu Tysa menemukan hal yang sangat mengejutkan. Dia melihat Al-Qur’an yang jatuh. Dan itu milik Tysa. Ibu Tysa melihat keadaan Al-Qur’an itu yang kumuh. Dan dari setiap lembar nya di makan kutu buku. Melihat keadaan seperti itu, Ibu Tysa merapih kan kembali ke tempat asal, dalam benak nya terfikir apa yang terjadi atau apa yang akan terjadi….selalu itu dan itu.

Sementara subuh itu, Tysa merapih kan semua untuk keperluan kantornya. Lalu mandi dan berbenah. Setelah semua selesai Tysa lalu berangkat ke kantornya menggunakan sepeda motor yang baru saja dia beli cas.

Tak terasa hari sudah sore. Tysa dan semua karyawan pulang. Tysa menuju ke rumah makan faforitnya dan makan di sana. Adzan magrib pun berkumandang. Tysa beranjak dari tempat duduk nya, meninggalkan uang untuk membayar makanan dan miniman nya lalu memakai helm dan menaiki sepeda motor nya untuk pulang ke rumah nya.

Tysa tiba di rumah nya. Seperti biasa dia langsung measukkan motornya ke dalam garasi lalu mandi, mengganti pakaian lalu ke tempat tidur, melihat – lihat majalah. Saat dia membuka halaman ke tujuh dari majalah itu, tysa melihat Al-Qur’an yang sangat cantik. Lalu dia teringat akan mimpi yang ia alami, namun ia mencoba untuk melupakan semua dan tak terasa Tysa tertidur.

Dalam keadaan tidurnya, Tysa kembali bermimpi yang sama, Tysa terbangun dan kembalinmenyentuh pipinya. Sama persis seperti keadaan kemarin. Tapi Tysa mencoba melupakan nya. Sampai hari ke tiga Tysa selalu bermimpi yang sama tentang Al-Qur’an yang menangis.

Dia pun merenung tentang kelakuannya yang selama ini berbaur dengan indah nya dunia. Tysa bingung. Mimpinya selalu datang dalam tidurnya.

“ Pertanda apa ini. Aku sangat yakin kalau semua ini adalah pertanda yang kurang baik…. Hah, Ibu….Mungkinkah terjadi sesuatu pada ibu???”.

Kekhawatirannya mulai muncul. Ia lalu mengambil Hp nya dan menelepon kantor nya untuk cuti selama satu minggu. Karena Tysa karyawan yang rajin, kepala kantor pun mengizin kan Tysa untuk cuti selama satu minggu.

Dengan kesempatan itu, Tysa tidak membuang – buang kesempatannya. Dia bermaksud pulang ke kampung untuk membicarakan semua itu dengan ibunya.

Sesampainya, Tysa di peluk serta di ciumi pipi nya oleh ibunya. Namun pancaran aura muka Tysa mendung di telan arang. Dengan perasaan yang tidak karuan, Tysa membicarakan semua kejadian tentang mimpinya yang selalu ia alami.

“ ketahuilah nak….ibu pun mendapatkan sebuah kejadian yang aneh seperti mu. Tunggulah nak, ibu punya sesuatu untuk mu”. Bahas ibunya sambil menuju kamar Tysa. Perasaan Tysa kembali makin tak karuan. Dalam benaknya memikirkan apa yang akan bunya berikan. “Huh…..”. keluhnya. Tiba – tiba ibunya datang membawa kotak merah.

“ Buka lah nak!!!”. Suruh ibunya.

Betapa terkejutnya Tysa melihat pemandangan yang sangat mengkhawatirkan, air matanya menetes tak tertahan kan di peluk dan di cium nya isi dalam kotak merah tersebut.

“ Sudah lah nak, tak usah di sesali apalagi di tangisi, wajah yang kamu sebut sebagai sahabat akhirat mu kini tak lagi terlihat. Bahkan lembar – demi lembarnya pun sebagian telah habis. Ketahuilah nak dia menginginkan sentuhan sucimu”.

Tysa merenung melihat kejadian yang tak semestinya terjadi. “ mungkin ini jawaban mimpiku???”. Tanya Tysa dalam hati. “ Maaf kan aku sahabat ku, aku telah lama membiarkan mu sendiri dalam kegelapan di dalam lemari. Bahkan aku pun telah melupakan mu. Jujur aku terlene akan pekerjaan ku. Sekarang aku berjanji, aku akan meninggalkan pekerjaan ku. Karena aku tau kau lah yang akan menerangi aku di dalam gelapnya malam. Bukan harta atau pekerjaan ku”. Jerit Tysa dalam hatinya.

Tiga hari Tysa bersama ibunya. Perasaan tentram dan aman pun ia rasakan kembali. Hingga ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan nya. Tapi tindakan itu tidak ia selesaikan sendiri tetapi dengan persetujuan ibunya.

Tysa kembali ke kota untuk membenahi barang – barangnya, menjual rumahnya dan berhenti dari pekerjaan nya. Keluarga Perusahaan sangat menyayangkan akan keputusan yang di ambil Tysa. Namun, semua itu Tysa lakukan untuk Akhirat nanti.

Akhirnya Tysa kembali seperti dulu. Hasil kerja yang ia tabung selama bekerja di pakai untuk membuka usaha yang di kelola Tysa dan Ibunya. Dan Tysa tidak bermimpi aneh tentang Al-Qur’an yang menangis dan berbicara kepadanya.

 

Created by:

Asty Fitriani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: